Pakar Teknologi Pangan IPB University Jawab Klaim Matcha Bisa Buat Kulit Glowing

Tren konsumsi matcha yang diklaim dapat “membuat cantik” dan kulit glowing semakin populer, terutama karena dikaitkan dengan efek anti-aging, pencegahan jerawat, dan peningkatan kelembapan kulit.
Secara ilmiah, Guru Besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Prof Nuri Andarwulan menjelaskan, matcha memang kaya katekin, terutama epigallocatechin gallate (EGCG), yang bersifat antioksidan. Namun, manfaatnya tidak sesederhana klaim di media sosial.
“Matcha merupakan tepung teh hijau yang diproduksi melalui proses khusus. Ada perlakuan penaungan sekitar tiga sampai empat minggu sebelum dipanen supaya klorofilnya tinggi (shade-growing). Setelah dikeringkan, daun digiling sangat halus seperti tepung,” kata Prof Nuri menjelaskan.
Menurut dia, karena dikonsumsi dalam bentuk bubuk utuh, kandungan gizi matcha lebih banyak tertelan dibanding teh seduh. “Kandungan katekin matcha lebih tinggi. EGCG pada matcha bisa mencapai lebih dari 120 mg per gram, lebih tinggi dibanding green tea biasa,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa senyawa fenolik seperti EGCG memiliki bioavailabilitas (daya serap) rendah pada manusia. “Kalau diserap, sangat kecil, di bawah lima persen. Sebagian besar masuk ke usus besar dan dimetabolisme oleh mikrobiota menjadi senyawa turunan (metabolit),” terang Prof Nuri.
Metabolit inilah, sebut Prof Nuri, yang kemudian dapat diserap ke aliran darah dan memberi efek biologis, seperti antioksidan, antiinflamasi, dan imunomodulator, termasuk pada sel kulit.
Efek biologis tersebut salah satunya berkat senyawa polifenol yang terkandung dalam matcha. Radikal bebas akibat paparan sinar UV, polusi, dan gaya hidup tidak seimbang dapat merusak kolagen dan elastin di lapisan kulit tengah (dermis). Kerusakan ini memicu penuaan dini dan keriput.
“Senyawa polifenol membantu menangkal radikal bebas sehingga mengurangi inflamasi dan menjaga integritas kolagen,” ujarnya.
Cara Paling Efektif
Terkait efektivitas konsumsi oral atau topikal, Prof Nuri menyebut keduanya saling melengkapi. “Kombinasi ideal adalah asupan dari dalam untuk proteksi sistemik dan topikal untuk perlindungan lokal di permukaan kulit,” katanya.
Ia menambahkan, perbaikan kulit melalui asupan pangan bersifat bertahap dan jangka panjang karena bekerja dari dalam sel, terutama di lapisan dermis dan epidermis. Sementara itu, produk topikal bekerja lebih cepat di permukaan kulit, tetapi efeknya sementara dan perlu pemakaian rutin untuk mempertahankan fungsi pelindung kulit.
Di balik manfaat tersebut, Prof Nuri mengingatkan batas konsumsi. Matcha mengandung serat tidak larut dalam jumlah cukup tinggi karena dikonsumsi sebagai bubuk daun utuh. “Jika dikonsumsi berlebihan dan tanpa cukup cairan, dapat menimbulkan gangguan pencernaan seperti sembelit. Dalam kasus ekstrem, pada individu tertentu, bisa memicu masalah pada saluran cerna,” ungkapnya. Karena itu, konsumsi tetap perlu wajar dan tidak terjebak klaim berlebihan.
“Matcha bisa menjadi bagian pola makan seimbang, tetapi bukan solusi instan untuk kulit glowing,” tutupnya. (Fj)
