Mata Najwa Hadir di IPB University, Bedah Makna Kuliah, Peran Ijazah, hingga Realita Dunia Kerja

Mata Najwa Hadir di IPB University, Bedah Makna Kuliah, Peran Ijazah, hingga Realita Dunia Kerja

IPB Today

IPB University kembali dipercaya menjadi tuan rumah program Mata Najwa. Mengusung tema “Kuliah, Kerja, dan Kenyataan”, kegiatan berlangsung di Grha Widya Wisuda (GWW), Kampus Dramaga, Bogor, Rabu (18/9).

Dipandu Najwa Shihab, acara menghadirkan tokoh lintas bidang, yaitu Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Prof Brian Yuliarto, peneliti dan pengajar Universitas Nottingham Bagus Muljadi, aktris Prilly Latuconsina, serta komika Ernest Prakasa. Kehadiran mereka memantik diskusi kritis mengenai makna kuliah, peran ijazah, hingga tantangan dunia kerja di era teknologi dan kecerdasan buatan (AI).

Rektor Prof Arif Satria menyebut IPB University hingga kini tetap eksis karena perkuliahan tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga terjun langsung menghadapi realitas. Mahasiswa, lanjutnya, juga dibekali dengan mindset dan soft skill yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Ia berujar, aktivitas organisasi mahasiswa (ormawa) hingga program orientasi kampus atau dikenal sebagai Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB), terbukti menjadi ruang pembelajaran nonakademik yang paling berkesan.

“Di momen wisuda kemarin, ketika ditanya pengalaman paling berkesan selama kuliah, jawaban nomor satu adalah MPKMB, lalu ormawa. Itu membuktikan betapa pentingnya soft skill dalam membentuk karakter lulusan,” ungkapnya.

Kurikulum K2020 menjadi kurikulum pertama di Indonesia yang memadukan akademik dan nonakademik. Dengan perpaduan ini, lulusan memiliki kompetensi yang utuh.

“Mahasiswa mendapatkan hard skill dari perkuliahan, sekaligus soft skill dari aktivitas organisasi dan pengalaman kampus. Perpaduan inilah yang akan melahirkan insan berdaya saing, siap membawa banyak kemajuan,” jelasnya.

Najwa Shihab membuka diskusi dengan pertanyaan tajam: “Kalau bisa sukses tanpa ijazah, apakah kuliah masih perlu? Untuk apa kita menghabiskan waktu dan biaya bertahun-tahun di bangku kuliah?”

Merespons hal itu, Prof Brian Yuliarto menerangkan bahwa pendidikan tinggi bukan semata soal ijazah, melainkan ruang untuk membangun kapasitas berpikir kritis. “Sarjana itu seharusnya menjadi pilar demokrasi. Kampus melahirkan pemikir bebas yang siap menjawab tantangan zaman,” ujarnya.

Sementara itu, Bagus Muljadi menyoroti pentingnya fleksibilitas dan interdisipliner dalam dunia akademik. “Di kampus, mahasiswa dilatih menggabungkan ilmu lintas bidang. Inilah bekal menghadapi dunia kerja yang kian kompleks,” jelasnya.

Aktris Prilly Latuconsina berbagi pengalaman bahwa kuliah tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian. “Nilai bukan segalanya. Yang paling penting, kuliah melatih kita disiplin, kritis, dan berani mengemukakan pendapat,” ungkapnya.

Komika Ernest Prakasa menambahkan perspektif dari dunia kreatif. “Industri kreatif lebih banyak menilai attitude dan soft skill. Senyum, gestur, cara berkomunikasi, itu bisa jadi lebih menentukan daripada nilai akademik,” katanya.

Najwa Shihab menutup diskusi dengan menekankan pentingnya kesadaran mahasiswa bahwa kuliah bukan tujuan akhir.  “Kampus adalah ruang untuk menemukan diri, melatih daya pikir, dan menyiapkan kita bukan hanya untuk mencari kerja, tapi juga menciptakan kerja,” tandasnya. (AS)