Presiden BEM IPB University: Kepemimpinan Itu Soal Mozaik Perbedaan, Bukan Menyeragamkan

Presiden BEM IPB University: Kepemimpinan Itu Soal Mozaik Perbedaan, Bukan Menyeragamkan

IPB Today

 

Muhammad Afif Fahreza, selaku Presiden Mahasiswa IPB University, menuturkan bahwa memimpin Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM-KM) IPB merupakan perjalanan penuh dinamika.

Bagi Kokoh, sapaan akrabnya, kepemimpinan bukan sekadar mengatur agenda organisasi, melainkan juga bagaimana mengelola ruang besar yang dihuni ribuan mahasiswa dengan beragam karakter, ide, dan ego yang berbeda.

“IPB University itu miniatur Indonesia. Mahasiswa datang dari berbagai latar belakang daerah, budaya, agama, hingga cara berpikir. Ada yang kritis, ada yang apatis, ada yang teknokratis, bahkan ada yang lebih suka bergerak di seni atau olahraga,” ujarnya.

Baginya, kepemimpinan bukan berarti menyeragamkan perbedaan, melainkan menjadikannya kekuatan. “BEM itu ibarat rumah besar. Setiap orang boleh masuk dengan warna masing-masing, dan tugas saya memastikan warna-warna itu tidak saling menutupi, tapi membentuk mozaik yang indah,” tambahnya.

Di bawah kepemimpinannya, Kokoh menegaskan BEM IPB University tidak boleh hanya berperan sebagai event organizer. Arah kepemimpinan difokuskan pada tiga program unggulan: advokasi, literasi politik, dan pengabdian masyarakat.

Dalam bidang advokasi, ia mengurai, BEM mengawal isu-isu krusial mulai dari biaya pendidikan, transparansi kebijakan kampus, hingga isu kekerasan seksual.  “Kami tidak ingin mahasiswa merasa sendirian ketika menghadapi persoalan. BEM hadir dengan data, kajian, dan jaringan yang kuat,” tegasnya.

Selain itu, literasi politik mendapat perhatian serius. Kokoh menilai mahasiswa adalah calon pemimpin bangsa, sehingga perlu terbiasa berdiskusi dan berpikir kritis sejak di kampus. “Kami membuat forum diskusi, Kelas Demokrasi, hingga mempertemukan mahasiswa dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan tokoh masyarakat agar terbiasa bicara politik secara sehat,” jelasnya.

Sementara itu, program pengabdian masyarakat diwujudkan melalui Safari Kebangsaan, Gerakan Tani Muda, hingga pemberdayaan desa. “Mahasiswa IPB University tidak boleh kehilangan akar. Ilmu yang kita pelajari harus kembali ke masyarakat,” katanya.

Fenomena individualisme di kalangan mahasiswa menurut Kokoh adalah konsekuensi zaman. Banyak mahasiswa fokus pada pencapaian pribadi, akademik, karier, hingga branding diri di media sosial.

“Ini tidak sepenuhnya salah. Tapi masalahnya muncul ketika individualisme menutup ruang kolektivitas. Sejarah membuktikan, gerakan mahasiswa kuat lahir dari solidaritas, bukan jalan sendiri-sendiri,” jelasnya.

Solusinya, kata Kokoh, adalah mengarahkan individualisme agar bermakna sosial. Mahasiswa dengan keahlian desain, misalnya, bisa membantu kampanye advokasi, sementara yang jago bisnis dapat memperkuat ekonomi mahasiswa. “BEM tidak boleh anti terhadap tren ini. Justru harus mengelolanya agar individualisme berubah jadi energi kolektif,” ujarnya.

Menurunnya, minat mahasiswa berorganisasi juga menjadi perhatian. Banyak yang menganggap organisasi melelahkan, penuh konflik, atau tidak relevan dengan kebutuhan masa depan.

“Masalahnya bukan di mahasiswa, tapi di bagaimana organisasi dikelola. Kalau hanya rapat panjang tanpa hasil, wajar kalau orang enggan ikut,” tegas Kokoh.

Karena itu, BEM IPB University mengubah pola rekrutmen dan kaderisasi, bukan lagi berbasis doktrinasi kaku, melainkan pengalaman nyata. Mahasiswa yang bergabung langsung terlibat dalam proyek sosial, advokasi, atau kegiatan berdampak.

“Organisasi itu laboratorium kepemimpinan. Di sinilah kita belajar komunikasi, strategi, hingga manajemen konflik. Kalau mahasiswa bisa melihat manfaat praktisnya, mereka akan kembali tertarik,” tambahnya.

Bagi Kokoh, kunci menghidupkan organisasi ada pada relevansi dan pengalaman. “Cukup beri ruang dan kepercayaan, biarkan mahasiswa tumbuh jadi pohon yang subur dan berbuah manis bagi sekitarnya,” tutupnya. (AS)