Anies Baswedan Berbagi Gagasan dalam Semarak Ramadan Al Hurriyyah 1447 H

Anies Baswedan Berbagi Gagasan dalam Semarak Ramadan Al Hurriyyah 1447 H

IPB Today

Krisis bukanlah sekadar situasi genting yang datang tak terduga. Ia merupakan akumulasi dari permasalahan yang tidak diantisipasi dengan skenario yang matang.

Hal tersebut ditegaskan oleh tokoh nasional, Anies Rasyid Baswedan, dalam kajian bertajuk “Menepi di Tengah Krisis: Membaca Realitas Kepercayaan Publik Hari Ini”. Kajian ini merupakan rangkaian Festival Ramadan yang diselenggarakan Masjid Al Hurriyyah IPB University, Sabtu (21/2).

“Sering kali kita mengucapkan ‘gimana nanti’, padahal seharusnya dibalik menjadi ‘nanti gimana’ supaya kita tidak menghadapi situasi krisis,” ujarnya di hadapan ribuan jamaah mahasiswa yang memadati masjid.

Menurutnya, suatu masalah tidak bisa hanya diserahkan kepada waktu untuk diselesaikan. Ketika para pemangku kepentingan terbiasa menyusun berbagai skenario atas kemungkinan yang ada, mayoritas masalah akan menjadi lebih mudah diprediksi.

Ia mencontohkan, tanda-tanda kemunduran suatu sektor jika dibiarkan tanpa langkah antisipasi sistematis pasti akan berujung pada krisis yang merugikan. Anies mengkritisi pentingnya kemampuan berpikir kritis dan inovatif untuk menyelesaikan masalah usang dengan pendekatan yang baru.

“Kita berupaya menjadi learnerTo learn atau mempelajari hal yang baru itu penting, tapi yang sering kali jauh lebih susah adalah to unlearn, yakni keberanian untuk meninggalkan cara, pendekatan, dan pemikiran yang sudah tidak lagi relevan,” jelasnya.

Menyoroti realitas hari ini, Anies menekankan bahwa pekerjaan rumah terbesar bangsa dan umat Islam adalah krisis integritas. Ia mengingatkan mahasiswa IPB University bahwa predikat sebagai khaira ummah (umat terbaik) bukanlah sebuah privilege, melainkan tanggung jawab besar terhadap persoalan kemanusiaan dan penjagaan amanah secara jujur.

“Mata uang masa depan, sesuatu yang paling berharga untuk dipakai bertransaksi, adalah trust atau kepercayaan, yang di dalamnya berakar teguh pada integritas. Kalau integritas tidak dibereskan, maka pemuda-pemudi tidak akan bisa bertahan di negeri ini,” tegas Anies.

Menjawab skeptisisme mahasiswa terhadap kepemimpinan di era krisis, ia menegaskan bahwa keunggulan dari integritas adalah ke-“apa adaan”-nya. Kampus dituntut menjadi oase yang memberikan rasa aman serta menjaga nilai kebenaran di luar pagar universitas. Tanda utama seorang pemimpin dipercaya, tambahnya, adalah ketika ia diikuti oleh masyarakat dengan sukarela.

Diskusi yang memantik kesadaran kritis ini merupakan bagian dari Semarak Ramadan 1447 H Masjid Al Hurriyyah IPB. Selain menghadirkan kajian intelektual yang berbobot, kegiatan ini juga menjadi episentrum solidaritas sivitas akademika.

Sepanjang bulan suci, panitia secara konsisten mendistribusikan 1.000 porsi paket berbuka puasa dan 300 porsi makan sahur gratis setiap harinya. Langkah sistematis ini menegaskan peran Masjid Al Hurriyyah sebagai “rumah kedua” yang inklusif dan suportif bagi mahasiswa IPB University di tengah padatnya aktivitas akademik.