Para ODGJ Dapat Keterampilan Dasar Hidup dari Mahasiswa IPB University
Sebanyak 80 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) mendapatkan keterampilan dasar hidup dari mahasiswa IPB University.
Mahasiswa tersebut adalah Dhiya Sabilaah (Biokimia), Hanawuri Nahari Johar dan Farhana Ginanti Maharani (Matematika), Marjan Kirana (Arsitektur Lanskap), dan Nabila Zahra. Kegiatan bernama “Sejiwa” ini merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
Program ini berupa pendampingan pengobatan nonmedis dengan terapi interaktif dan relaksasi alam. Tim menggunakan metode CBT-Graph, yakni gabungan dari cognitive behavioural therapy, ecotherapy, dan gamifikasi.
Dhiya Sabilaah mengutarakn, program ini digagas karena keprihatinan mereka terhadap stigma negatif dan penanganan ODGJ yang kerap dianggap tidak manusiawi. Karena itu, program ini dirancang untuk melatih kemampuan psikomotorik, membekali keterampilan dasar hidup, serta meningkatkan ekspresi emosi dan interaksi sosial, sehingga mereka dapat kembali hidup layaknya orang pada umumnya.
Dalam pelaksanaannya, tim menggandeng Darul Miftah Mulia Bogor sebagai mitra. Yayasan nonprofit yang sudah berdiri sejak tahun 2004 ini terletak di Kampung Cisuuk, Desa Cibeuteung Udik, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Yayasan ini menempati lahan seluas 1.000 m2 dengan luas bangunan 700 m2. Sebanyak lima pendamping dari Darul Miftah Mulia Bogor menangani 80 ODGJ yang didominasi laki-laki produktif.
Program ini terdiri atas enam rangkaian dengan empat kegiatan utama, yakni Unting Souls (pengenalan program, sosialisasi, pelatihan pengurus, serta pretest peserta), Teka Hati (permainan kartu edukatif-interaktif), Semaian Akar (kegiatan menanam, khususnya tanaman mint), Sentuhan Harapan (pembuatan kerajinan bantal aromaterapi berbahan mint), dan Suara Batin (refleksi diri melalui cerita, pohon kehidupan, dan majalah dinding).
Dari hasil program menunjukkan sasaran mampu melakukan kegiatan yang diberikan. Mereka dapat mengoordinasikan antara gerakan otot dan tubuh dengan fungsi mental seperti merespons kegiatan, berinteraksi, dan berpikir.
“Kami juga mengamati para peserta memiliki inisiatif pribadi untuk melakukan kegiatan, Mereka mampu mengekspresikan diri dan mengikuti kegiatan berkelompok sebagai ranah interaksi sosial, dan lebih percaya diri,” tutur Dhiya.
Ia dan tim berharap program ini dapat diteruskan dan menjadi inspirasi bagi yayasan dan komunitas serupa. “Kami berharap yayasan atau komunitas lain dapat mengadopsi program ini sebagai salah satu pengobatan nonmedis yang dapat membantu penyembuhan kesehatan jiwa,” tambahnya. (dh)
