Guru Besar IPB University dan Universitas Gunadarma Ulas Digital Agroindustry di Panggung Internasional, Perkenalkan Inovasi Satria-Keren

Guru Besar IPB University dan Universitas Gunadarma Ulas Digital Agroindustry di Panggung Internasional, Perkenalkan Inovasi Satria-Keren

IPB Today

Guru Besar IPB University, Prof Marimin, dan Guru Besar Universitas Gunadarma, Prof Tubagus Maulana Kusuma, menekankan pentingnya transformasi digital dalam sektor agroindustri. Hal tersebut disampaikan keduanya dalam Konferensi Internasional “4th International Conference on Innovation in Technology and Management for Sustainable Agroindustry (4th ITAMSA 2025)”.

Dalam paparannya, Prof Marimin menekankan pentingnya integrasi teknologi dalam seluruh rantai agroindustri, mulai dari perencanaan, proses produksi, rantai pasok, hingga pengelolaan keuangan.

“Pendekatan adaptif dan cerdas di era digital bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk memastikan agroindustri tetap kompetitif dan berkelanjutan dalam bisnis global,” tegasnya.

Prof Marimin juga mengungkapkan bahwa penerapan teknologi digital seperti deep learning telah mampu mendeteksi dan menyeleksi biji kopi secara otomatis. Ia juga memperkenalkan inovasi IPB bertajuk Satria-Keren, sistem analitik untuk mengukur kinerja keberlanjutan rantai pasok dan prediksi rendemen agroindustri tebu.

Hal tak kalah penting, Prof Marimin juga menyoroti pentingnya integrasi pilar keberlanjutan, seperti aspek ekonomi, sosial, lingkungan, teknologi, dan kelembagaan dalam transformasi digital.

“Studi kasus dari perusahaan global seperti Nestlé dan implementasi blockchain dalam rantai pasok kopi menjadi bukti nyata bahwa teknologi digital mampu meningkatkan efisiensi, transparansi, dan ketahanan agroindustri,” jelasnya.

Sementara itu, Prof Tubagus Maulana Kusuma mengungkap potensi penggunaan traktor otonom, sistem penyemprotan presisi, robot pemetik buah, hingga pemanfaatan UAV (drone) untuk pemantauan tanaman sebagai bagian dari strategi digital agroindustry. Robot, sebutnya, dapat mengatasi tantangan seperti kekurangan tenaga kerja dan variabilitas iklim.

“Di masa depan, kita ingin melihat robot yang dapat bekerja dari satu tugas ke tugas lainnya hingga selesai,” kutipnya sambil membayangkan masa depan saat robot bisa menyelesaikan seluruh siklus pertanian secara otonom. Ia juga menekankan bahwa peran petani akan bertransformasi, dari pekerja lapangan menjadi manajer sistem yang berbasis teknologi.

Menurut keduanya, kunci keberhasilan digitalisasi agroindustri terletak pada kolaborasi setiap pemangku kepentingan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan infrastruktur digital, serta dukungan kebijakan yang mendorong inovasi berkelanjutan.

Pembicara internasional yang hadir antara lain Dr Rajeev Kamineni (Adelaide University, Australia), Dr Jean Marc Roda (CIRAD, Prancis), Prof Tuyen Chan Kha (Nong Lam University, Vietnam), Guillermo Baigorria (Digital and Precision Agriculture, Peru), dan Assoc Prof Dr Nazmi Mat Nawi (Universiti Putra Malaysia). Acara ini juga menjadi ajang presentasi bagi 71 makalah ilmiah yang terpilih dari berbagai institusi, termasuk dari Malaysia, Jepang, Australia, dan berbagai universitas di Indonesia. (*/Rz)